Monthly Archives: July 2024

Pendidik menyediakan dukungan sosial emosional bagi peserta didik dalam proses pembelajaran

Memberikan perhatian kepada peserta didik yang memerlukan dukungan lebih atau khusus dalam pembelajaran memerlukan pendekatan yang holistik dan penuh empati. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan pendidik:

1. Identifikasi Kebutuhan Peserta Didik

  • Observasi dan Penilaian: Perhatikan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa peserta didik memerlukan dukungan tambahan, seperti perubahan perilaku, penurunan prestasi akademik, atau tanda-tanda stres.
  • Komunikasi Terbuka: Ajukan pertanyaan langsung kepada peserta didik mengenai perasaan mereka dan tantangan yang mereka hadapi.

2. Menciptakan Lingkungan yang Aman dan Mendukung

  • Rasa Aman: Pastikan kelas adalah tempat yang aman di mana peserta didik merasa dihargai dan didengar.
  • Rasa Hormat: Perlakukan semua peserta didik dengan hormat dan dorong mereka untuk saling menghormati.

3. Intervensi Awal dan Rutin

  • Pendekatan Proaktif: Jangan menunggu hingga masalah menjadi serius. Berikan dukungan segera setelah tanda-tanda pertama muncul.
  • Monitoring Rutin: Lakukan pengecekan rutin untuk memastikan bahwa intervensi yang dilakukan berjalan dengan baik.

4. Bekerja Sama dengan Orang Tua/Wali dan Profesional Lain

  • Komunikasi Terbuka: Jalin komunikasi yang baik dengan orang tua atau wali peserta didik untuk memahami lebih baik situasi mereka di rumah.
  • Kolaborasi dengan Profesional: Jika perlu, bekerja sama dengan psikolog, konselor sekolah, atau spesialis pendidikan khusus untuk memberikan dukungan yang lebih komprehensif.

5. Menyediakan Akses ke Sumber Daya

  • Materi Pembelajaran Tambahan: Sediakan bahan-bahan pembelajaran tambahan atau alternatif yang dapat membantu peserta didik memahami materi dengan lebih baik.
  • Layanan Konseling: Pastikan peserta didik mengetahui bahwa mereka dapat mengakses layanan konseling jika mereka memerlukannya.

6. Penerapan Strategi Pengajaran Diferensiasi

  • Pembelajaran Individual: Sesuaikan metode pengajaran untuk memenuhi kebutuhan individual peserta didik, termasuk memberikan waktu tambahan atau metode penjelasan yang berbeda.
  • Pendampingan Khusus: Jika memungkinkan, sediakan pendampingan satu-satu bagi peserta didik yang membutuhkan dukungan lebih.

7. Pengembangan Keterampilan Sosial dan Emosional

  • Kegiatan Kelompok: Libatkan peserta didik dalam kegiatan yang mempromosikan kerja sama dan keterampilan sosial.
  • Pelatihan Emosional: Ajarkan strategi pengelolaan emosi dan keterampilan coping untuk membantu peserta didik menghadapi stres dan tekanan.

8. Refleksi dan Umpan Balik

  • Refleksi Diri: Dorong peserta didik untuk merefleksikan perasaan dan pengalaman mereka.
  • Umpan Balik Konstruktif: Berikan umpan balik yang membangun dan dorongan positif untuk membantu meningkatkan kepercayaan diri peserta didik.

9. Membangun Hubungan yang Kuat

  • Empati dan Kasih Sayang: Tunjukkan empati dan kasih sayang dalam interaksi sehari-hari dengan peserta didik.
  • Kepercayaan dan Keterbukaan: Bangun hubungan yang didasarkan pada kepercayaan dan keterbukaan, sehingga peserta didik merasa nyaman untuk berbicara tentang masalah mereka.

Dengan pendekatan yang komprehensif dan penuh empati ini, pendidik dapat memberikan dukungan sosial emosional yang efektif kepada peserta didik yang memerlukan perhatian lebih atau khusus.

Memberikan umpan balik yang membangun kepercayaan diri peserta didik bahwa kemampuan dirinya dapat terus berkembang ketika ia mau berusaha.

Memberikan umpan balik yang membangun kepercayaan diri peserta didik adalah hal yang penting dalam proses pembelajaran. Berikut adalah beberapa contoh cara untuk melakukannya:

  1. Fokus pada usaha dan proses, bukan hanya hasil:

“Proses belajar kamu sangat baik. Teruskan usaha ini dan kamu akan melihat hasil yang lebih baik lagi.”

“Saya melihat kamu telah bekerja keras untuk memahami konsep ini. Usaha yang kamu lakukan sangat baik!”

  1. Berikan pujian yang spesifik:

“Kamu telah berhasil menjelaskan konsep ini dengan sangat jelas. Penjelasanmu menunjukkan bahwa kamu benar-benar memahami materi.”

“Kamu membuat kemajuan yang signifikan dalam menyelesaikan masalah ini. Strategi yang kamu gunakan sangat efektif.”

  1. Kenali perkembangan dan perbaikan:

“Saya perhatikan bahwa kamu semakin baik dalam memahami materi ini dibandingkan sebelumnya. Kerja kerasmu mulai terlihat hasilnya.”

“Kemajuanmu dalam topik ini luar biasa. Teruskan seperti ini dan kamu akan semakin mahir.”

  1. Dorong rasa ingin tahu dan eksplorasi:

“Pertanyaan yang kamu ajukan sangat bagus dan menunjukkan bahwa kamu benar-benar tertarik pada topik ini. Lanjutkan mengeksplorasi dan mencari tahu lebih banyak.”

“Rasa ingin tahu kamu sangat membantu dalam proses belajar. Teruslah bertanya dan mencari tahu.”

  1. Berikan saran konstruktif yang positif:

“Saya suka bagaimana kamu mencoba pendekatan yang berbeda untuk memecahkan masalah ini. Mungkin kamu bisa mencoba metode ini untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.”

“Kerja kerasmu sangat terlihat. Sedikit lagi usaha di bagian ini dan kamu akan melihat peningkatan yang signifikan.”

  1. Gunakan bahasa yang memberdayakan:

“Kamu memiliki kemampuan yang hebat untuk memahami konsep-konsep ini. Teruskan usaha dan dedikasimu.”

“Setiap langkah kecil menuju perbaikan adalah pencapaian. Saya yakin kamu bisa mencapai target yang kamu inginkan.”

Dengan memberikan umpan balik yang positif dan membangun, peserta didik akan merasa didukung dan termotivasi untuk terus berusaha dan berkembang.

Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Inovatif

SDN Pamolukan 3 terletak di pinggiran Kota Sumenep saat mulai bertugas sebagai kepala sekolah di SD ini setahun yang lalu Masrur Abadi menemukan banyak tantangan diantaranya prestasi akademik dan non akademik sekolah yang rendah orang tua dan masyarakat yang kurang peduli dan sarana fisik yang tidak mendukung terciptanya proses belajar yang efektif dan menyenangkan.

Saya pertama kali masuk yang jelas kita porest kelas 1 sampai kelas 6 semua setting kelasnya konvensional. Ketika setting kelasnya konvensional, tidak ada kooperatif learning,  tidak ada anak belajar berkelompok gitu ya kemudian hasil kelompoknya dipresentasikan itu tidak ada.

Bertekad untuk melakukan perubahan pak Masrur Mulai mengumpulkan data-data terkait kondisi sekolah menentukan prioritas masalah dan solusinya dan mendiskusikan solusi tersebut bersama para guru komite sekolah dan wali murid

Target saya 2 bagaimana saya bisa mengimplementasikan kelas yang literasi jadi program literasi GLS gerakan literasi sekolah itu yang saya lakukan bareng dengan penguatan pendidikan karakter, itu yang saya jalani.

Langkah pertama yang dilakukan adalah menata ulang ruang kelas dan memadukannya dengan program literasi.  Pojok-pojok baca dihadirkan di tiap-tiap kelas dengan tema seperti gubuk baca, kereta baca, pantai baca, dan lain sebagainya. Semua kelas harus dirombak harus dipencet menjadi kelas-kelas Interaksi yang tema per kelasnya juga sangat berbeda.

Masrur melibatkan semua guru di SDN pamolokan 3 untuk ikut serta secara aktif menentukan tema ruang kelasnya masing-masing. Motivatornya itu dari Pak masuk sendiri kemudian diserahkan kepada wali kelas masing-masing suruh pilih tema apa yang berbeda tidak boleh sama antara kelas 1 sama kelas berikutnya.  Kegiatan literasi juga diwujudkan dalam bentuk pembiasaan membaca selama 30 menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai.  

Kita membuat jadwal kepada anak-anak itu untuk membaca jadwal ini juga sudah disosialisasikan kepada semua wali murid,  yaitu setengah tujuh di sekolah ini anak-anak sudah di bel.  Pada hari Selasa dan hari Kamis itu setengah 7 di bel anak membaca.  Selain kegiatan membaca reguler setiap Selasa dan Kamis siswa juga mendapatkan materi kearifan lokal yang diberikan secara rutin.  Rabu dan Jumat tetap pada gerakan literasi,  tetapi kepada kearifan lokal, Iqro’ bagaimana anak bisa Tadarus,  

Sejak 1 tahun terakhir Kepala SDN pamolokan 3 juga berinisiatif menerapkan program yang dinamakan sabtu ceria, di mana proses pembelajaran akademik di Sekolah tiap hari Sabtu ditiadakan.  Sebagai Gantinya hari itu diisi dengan senang bersama kesenian, pramuka, dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler lainnya.   Hari Sabtu pagi itu setengah 7 kita bel, anak-anak tidak membaca tetapi senam kita senang bareng, setelah senam anak-anak ganti baju masuk ekskul itu wajib, kelas 1 sampai dengan kelas semuanya berpramuka Ria.

Kerja keras Pak Mastur dan perubahan yang dihasilkan di SDN pamolukan 3 mengundang perhatian banyak pihak.  Pak Masrur juga sering meluangkan waktu untuk berbagi pengalaman dengan sekolah-sekolah lain di sekitarnya. 

Pak Masrur masuk kelas-kelas kemudian memberikan masukan-masukan.  Pak Heru ini coba kelola lebih bagus lagi akan membuat anak lebih bahagia.  Oke Seperti apa Masrur? Didesain  sesuai dengan tema pelajaran yang ada di kelas ini, kelas ini, kelas ini.  Kalau kita lihat ini ada gerakan perubahan yang luar biasa,  sehingga dengan kepemimpinan yang baru ini bisa terbangun suasana kelas yang sudah bisa menunjukkan ini lo kelas yang model MBS, kemudian  nanti proses pembelajarannya juga bisa dilakukan dengan pembelajaran yang menyenangkan pada anak-anak juga nanti.

Contoh Kepemimpinan Kepala Sekolah Hebat

SDN sumbergondo 2 yang berada di pedesaan lereng gunung Arjuna ini memiliki beragam masalah mulai masalah kedisiplinan pembelajaran yang lebih banyak ceramah sarana pembelajaran yang kurang layak hingga para orang tua maupun di sekitar sekolah lebih memilih menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah lainnya dianggap lebih maju.

Namun kini SDN sumbergondo 2 berhasil menerapkan pembelajaran berkelas dunia semua guru telah menerapkan pembelajaran aktif di ruang kelas yang menarik yang di desain dengan lukisan mural konsep.  Perubahan ini tidak lepas karena kepemimpinan kepala sekolahnya yang inovatif

Sekolah ini adalah sekolah yang nonton ini letaknya ujung timur Utara Kota Bandung Karena setelah sekolah ini tidak ada sekolah lagi tidak ada Desa lagi.  Awal kami masuk di sekolah ini kami bingung karena pada dasarnya sekolah ini sekolah yang tidak diminati oleh masyarakat sekitar kami datang ke sekolah ini jam 06.30 itu belum ada satupun guru yang datang bahkan muridnya masih beberapa orang.  Akhirnya yang kita Tata adalah gurunya guru yang biasanya pembelajarannya secara konvensional kita tata juga dengan kedisiplinan, jadi mulai dari kehadiran sampai dengan jam pulang mulailah berjalan dengan baik, sekitar 3 bulan mereka segera merubah kebiasaan mereka sudah Menata diri

Untuk membuat para guru terus belajar dan bekerja sama meningkatkan kualitas pembelajaran kepala sekolah menginisiasi kegiatan kelompok kerja guru tingkat sekolah.  guru yang telah berhasil menerapkan pembelajaran aktif diminta mendampingi dan membantu guru lainnya dana BOS pun dianggarkan sebesar 30% untuk mendukung peningkatan mutu pembelajaran kepala sekolah juga melibatkan orang tua dan masyarakat dalam mendukung program sekolah dampaknya pembelajaran aktif dapat berjalan dengan baik.

Pakem sudah berhasil Kemudian beberapa program unggulan sudah kita laksanakan kemudian saya berpikir eee kita akan jenuh kalau melihat seperti itu saja,  maka kami sharing dengan beberapa teman juga guru Bagaimana kalau sekarang kelasnya kita ubah dengan kelas berkonsep.   Kemudian kami rapat dengan komite Rapat dengan Paguyuban akhirnya yang menangani ini adalah semua paguyuban dan komunitas.  Kelas berkonsep itu tujuannya sangat sederhana sekali satu membuat anak-anak betah di kelas,  yang kedua menarik perhatian calon siswa, dan yang ketiga adalah agar siswa memahami materi yang ada di kelasnya itu karena salah satu temannya kita Munculkan dalam bentuk lukisan di dalam kelas.  Kelas berkonsep ini Ternyata menarik perhatian para tamu dalam dan luar negeri.

Tanggapan Siswa: Menurut saya yang menarik itu tentang presentasi karena kalau presentasi itu membuat semua anak bisa berbicara dan menjadi berani 

Tanggapan Guru: perbedaannya kalau saya dulu masuk ke sini yang penting ngajar di dalam kelas anak tidak ramai sudah itu cukup tapi kan Kepala Sekolah yang sekarang beliau lebih ngerti tentang apa yang harus guru lakukan kepada anak

Tanggapan Komite:   yang paling utama menurut saya adalah peran kepemimpinan dari seorang kepala sekolah yang bisa memberikan motivasi secara menyeluruh dari semua penyelenggara pendidikan di sini terutama dewan guru Kemudian kami sebagai komite juga merasa ikut terbawa arus kepada perubahan yang lebih baik ini,  jadi kalau dulu komite itu jarang-jarang datang ke sekolah paling-paling waktu dibutuhkan tanda tangannya aja.

Tanggapan Kepala Dinas:   Dari yang sama sekali sekolah yang tidak laku banyak anak-anak di desa itu sekolahnya keluar dari desa itu biasanya tetapi sekarang semua anak sekolah di sana karena Kepala Sekolahnya yang mempunyai motivasi tinggi mampu menggerakkan guru wali murid mau membantu bagaimana perkembangan sekolah sehingga menurut saya untuk Ibu Sri Winarni di sumur Gontor gua itu sangat bagus

Tanggapan Kepala Sekolah:  awalnya memang berat tantangannya berat banyak guru-guru kita yang mengajukan mutasi kita pun juga ikhlaskan, komplain dari masyarakat luar biasa banyaknya saya berpikirnya kalau kita mau maju seharusnya kita keluar dari zona aman dan nyaman

Bagaimana Interaksi Antar Guru, Murid, dan Staf Sekolah yang diharapkan

Interaksi Guru dan Murid yang diharapkan:

  1. Guru harus terbuka untuk mendengarkan pendapat dan pertanyaan murid, serta memberikan umpan balik yang konstruktif.
  2. Guru harus menghormati murid dan menunjukkan empati terhadap kebutuhan serta tantangan yang mereka hadapi.
  3. Guru perlu memberikan dorongan dan motivasi kepada murid untuk mencapai potensi penuh mereka.
  4. Guru sebaiknya memahami kebutuhan belajar individu murid dan menyesuaikan metode pengajaran mereka.
  5. Guru harus menetapkan dan mengkomunikasikan harapan yang jelas mengenai perilaku dan prestasi akademik.

Interaksi Guru dan Staf Sekolah

  1. Guru dan staf sekolah perlu bekerja sama dalam berbagai aspek, termasuk perencanaan kurikulum, kegiatan ekstrakurikuler, dan manajemen kelas.
  2. Staf sekolah harus menyediakan dukungan administratif dan logistik yang memadai bagi guru untuk menjalankan tugas mereka dengan efektif.
  3. Guru dan staf harus saling mendukung dalam upaya pengembangan profesional, termasuk pelatihan dan workshop.
  4. Keduanya harus memiliki tujuan bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan murid.

Interaksi Murid dan Staf Sekolah

  1. Staf sekolah harus mudah diakses oleh murid dan ramah dalam berinteraksi.
  2. Staf sekolah perlu menyediakan layanan dukungan seperti konseling, bimbingan karir, dan bantuan akademik.
  3. Staf harus membantu murid dalam menyelesaikan konflik atau masalah yang mungkin mereka hadapi di sekolah.
  4. Staf sekolah sebaiknya memberikan penghargaan dan pengakuan kepada murid untuk pencapaian dan perilaku positif mereka.

Interaksi antara Semua Pihak

  1. Semua pihak harus saling menghormati dan menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi semua individu.
  2. Harus ada saluran komunikasi yang efektif di mana guru, murid, dan staf sekolah dapat berbagi informasi dan bekerja sama.
  3. Penting untuk memiliki mekanisme umpan balik di mana setiap pihak dapat memberikan masukan untuk perbaikan terus-menerus.
  4. Melibatkan seluruh komunitas sekolah dalam kegiatan bersama untuk membangun rasa kebersamaan dan kepemilikan.